YarraMall

Suara Hati yang Tak Terucapkan

Teknologi PETROBRAS: Buah Riset Sekitar 50 Tahun

Mula-mula Tupi, kemudian Carioca, kedua temuan minyak di laut dalam milik Brasil membuat heboh dunia perminyakan sejak akhir tahun lalu. Kedua prospek yang sudah dibor itu terletak di laut dengan kedalaman sekitar 2000 m dan ditutup oleh sedimen dan garam setebal sekitar 5 km. Reservoir berada di kedalaman sekitar 7 km dari permukaan laut.

Konon, perhitungan awal jumlah minyak+gas yang ada temuan di struktur Carioca (BM-S-9) adalah 33 triliun boe, demikian menurut informasi yang berhasil didapatkan Rigzone.com. Tupi (BM-S_11), yang telah dibor lebih dulu, menyimpan 5 triliun bo, dan bersama gas menjadi sekitar 8 triliun boe. Bulan Juni dan Agustus tahun ini Petrobras kembali mengeluarkan pengumuman temuan minyak secara berurutan di struktur Guara (BM-S-9) dan temuan “material” di struktur Lara (BM-S-11). Entah apa arti temuan “material” itu. Usaha Petrobras untuk membuka potensi migas di wilayah frontier laut dalam cekungan Santos sejak tahun 2006 sekarang membuahkan hasil manis.

Selain besarnya angka potensi migas yang tersimpan di wilayah operasi Petrobras, kedalaman reservoir yang menjadi target dan kedalaman laut di mana tantang teknologi pengeboran sangat tinggi, ada sebuah poin lain yang membuat penemuan itu signifikan. Poin ini adalah kesuksesan Petrobras membuktikan ide mencari potensi migas di bawah lapisan garam dengan dibantu oleh program Pemodelan Cekungan secara 2D & 3D yang baik.

Fondasi Kesuksesan
Dari mana Petrobras mendapatkan fondasi yang menunjang kesuksesan mereka saat ini? Selama 45 tahun, sampai dengan th 1998, Petrobras memonopoli hak untuk mengeksplorasi, memproduksi, mengilang, mendistribusikan, menjual dan membeli migas di Brasil. Persis banget dengan peran NOC alias National Oil Company model jaman pil kiplik.

Di tahun 1998 National Petroleum Agency (ANP) mengumumkan bahwa lebih dari 92% cekungan sedimen di Brasil akan ditawarkan kepada perusahaan minyak swasta. Petrobras juga diprivatisasi dan saat ini pemerintah Brasil hanya memiliki saham sebanyak 51%.

Selama ini, Petrobras selalu direcoki oleh kepentingan politik penguasa, persis seperti kebanyakan NOC di dunia. Sejak privatisasi sampai dengan th 2005, Petrobras berhasil menghindarkan diri dari pengaruh tak sehat perpolitikan, namun belakangan ini, Presiden Lula da Silva mulai bermain-main sedikit, dengan cara mengharuskan Petrobras mengutamakan produksi dalam negeri, seperti saat membangun fasilitas produksi dan penyimpanan terapung alias FPSO (Floating Production Storage & Off-loading).

Kesuksesan Petrobras di bidang teknologi pembuatan FPSO dan temuan migas di laut ultra-dalam adalah juga buah kerja keras pusat riset mereka, CENPES. Petrobras juga selalu mengirimkan karyawan-karyawan terbaik mereka untuk dididik di universitas terkemuka di luar Brasil, demi mengambil ilmu dan teknologi dari luar, memodifikasi teknologi itu dan kemudian menerapkannya di Brasil sesuai dengan kondisi alam yang mereka hadapi.

CENPES Petrobras
Cikal bakal CENPES adalah CENAP, yang didirikan pada tahun 1955. Saat baru berdiri, CENAP diberi tugas mempromosikan kursus-kursus bagi karyawan Petrobras dan juga memusatkan perhatian pada riset teknologi, terutama yang berkaitan dengan modifikasi kilang minyak agar bisa digunakan untuk mengolah minyak Brasil yang lebih berat daripada minyak yang diimpor dari Timur Tengah.

Pada tahun 1963, para direktur Petrobras memutuskan bahwa CENAP hanya akan bergerak di bidang riset dan pengembangan. Nama CENAP kemudian diganti menjadi CENPES pada th 1973. Pada tahun itu juga, CENPES mendapatkan pinjaman tanah dari Federal University of Rio de Janeiro untuk membangun pusat riset dekat universitas tersebut, sehingga pertukaran informasi dan kerjasama ilmiah dapat berlangsung lebih efektif.

Pada tahun 1992 dan juga di tahun 2002, CENPES mendapatkan penghargaan sebagai Pusat Riset Terbesar di kawasan Amerika Selatan dari Offshore Technology Conference. Berdasarkan laporan perusahaan Petrobras, sampai dengan akhir th 2005, CENPES memiliki 1569 staff, 350 orang pernah mendapatkan pendidikan Master dan 130 orang memiliki kualifikasi doktor. Tenaga kerja CENPES juga meliputi para spesialis dengan pengalaman puluhan tahun.

Teknologi pembuatan FPSO yang bisa beroperasi di laut dalam adalah salah satu spesialisasi CENPES. FPSO milik Petrobras diakui cocok untuk dipergunakan di kawasan seperti Teluk Meksiko yang selalu dilewati badai. Jika badai datang, produksi bisa dihentikan dan FPSO ditarik dengan cepat ke kawasan yang lautnya lebih tenang.

Di bidang R&D, CENPES memprioritaskan 3 jenis riset, yang meliputi meningkatkan produksi minyak berberat jenis tinggi di lepas pantai, mengembangkan teknologi eksplorasi & produksi di kawasan laut ultra-dalam dan memperlambat penurunan produksi lapangan-lapangan tua. Seperti yang kita lihat pada saat ini, Petrobras sudah menjadi pionir dalam mengeksplorasi wilayah laut ultra-dalam dengan adanya temuan-temuan migas di cekungan Santos sejak th 2006. Mereka juga sudah mulai bekerja sama dengan StatOil Norwegia dalam rangka memperlambat penurunan produksi lapangan migas tua, sementara itu StatOil belajar teknologi pemasangan kepala sumur di dasar laut dari Petrobras.

Di tahun 2005, CENPES merestrukturisasi program R&D bidang eksplorasi mereka, dari yang semua hanya berupa kerjasama dengan universitas ke memfokuskan diri pada identifikasi target eksplorasi dan memaksimalkan probabilitas untuk menemukan migas serta mendeteksi resiko geologi prospek-prospek di laut ultra-dalam. Dengan demikian, CENPES sekarang telah secara langsung berpartisipasi dalam memecahkan tantangan eksplorasi Petrobras, bukan hanya di bidang produksi dan pengilangan minyak seperti yang mereka lakukan sebelum tahun 2005.

Restrukturisasi CENPES kemudian menghasilkan program Basin Modelling bernama Promob dan pembuatan bagian Geofisika. Promob dipergunakan untuk membuat model generasi, migasi dan akumulasi migas di cekungan sedangkan bagian Geofisika nanti akan berkonsentrasi pada seismik 4D guna memecakan permasalahan produksi di lapangan yang geologinya kompleks.

Apalagi buah kerja CENPES yang lain? Salah satunya adalah pengembangan teknologi biofuel dan berbagai patent. Lalu berapa budget R&D di tahun 2006? Sekitar US $ 700 juta.

CENPES akan terus memprioritaskan program Teknologi Laut Dalam, karena mereka hendak mempersiapkan fasilitas produksi bagi Petrobras di masa depan. Mereka hendak memproduksi temuan migas di laut ultra-dalam seperti yang ada di cekungan Santos dengan teknologi yang mereka buat sendiri. Apakah mereka akan sukses? Waktulah yang akan membuktikannya.

Sumberdaya Manusia di Petrobras

Kesuksesan Petrobras sekarang juga didukung oleh sumberdaya manusia yang mampu menguasai teknologi dan memodifikasi teknologi itu sesuai dengan tantangan yang mereka hadapi. Petrobras tampaknya selalu
mengedepankan pengembangan SDM, yang sebenarnya bukan resep baru alias resep ini adalah resep antik. Cuma, ada perbedaan antara tahu bahwa mengembangkan SDM itu penting dan betul-betul menerapkan tindakan untuk mengembangkan SDM itu.

Apa yang Petrobras lakukan untuk mengembangkan SDM mereka, khususnya di bidang geosains? Mereka bekerja sama dengan University of Texas at Austin, mengirimkan karyawan mereka untuk dididik di sana. Dalam kurun waktu 1968-2003, Utexas at Austin mendidik tak kurang dari 58 geosaintis Petrobras, termasuk 14 mahasiswa master dan 12 mahasiswa Ph.D.

Situs ini: http://www.jsg.utexas.edu/news/feats/2007/exploration_development.html
memuat cerita korelasi geosaintis didikan Utexas dengan kesuksesan eksplorasi Petrobras di wilayah lepas pantai. Tentu saja artikel ini bernada mempromosikan peran Utexas at Austin, karena SDM Petrobras tidak hanya dididik di Utexas at Austin saja. Universitas lain seperti Illionis at Urbana juga pernah mendidik periset CENPES.

Sekolah di Amerika Serikat itu, seperti yang kita ketahui, biayanya mahal. Oleh karena itu mereka juga mengirimkan staff mereka ke Eropa, seperti Uppsala University di Swedia, untuk belajar petrologi batupasir dari Prof. Sadoon Morad yang orang Iraq. Swedia masih menggratiskan uang kuliah, jadi Petrobras hanya perlu membayar biaya hidup karyawannya.

Petrobras sekarang juga memiliki Petrobras University untuk mendidik tenaga kerja baru mereka sendiri dalam bentuk kursus-kursus. Laporan tahunan Petrobras menunjukkan bahwa pada tahun 2005, ada 1216 orang karyawan baru Petrobras yang dididik di sana. Sebanyak 749 orang berhasil menamatkan kursus mereka. Petrobras University memiliki spesialisasi di bidang Teknik Perminyakan dan Teknik Proses, dimana kedua jurusan ini telah diakui oleh Kementerian Pendidikan Brasil.

Penutup

Sebagai penutup, saya ingin menggarisbawahi fondasi keberhasilan Petrobras sekarang. Yang pertama adalah penguasaan teknologi dan diadaptasikan sesuai dengan tantangan yang mereka hadapi. Biarpun pemerintah dan pulitik menginjak-injak Petrobras sebagai sebuah organisasi, mereka tidak pernah melupakan pusat riset mereka. Ketika situasi menjadi lebih baik, buah ketekunan mereka bisa dipetik.

Yang kedua adalah betul-betul mengembangkan SDM mereka, bukan hanya teori belaka. Biaya pengembangan SDM memang mahal, namun pasti ada cara untuk melewati tantangan seperti ini.

Yang ketiga, privatisasi vs nasionalisasi, privatisasi tidak selalu jelek dan nasionalisasi tidak selalu baik. Terbukti dari kasus Petrobras, nasionalisasi yang mereka jalani justru tidak membuat Petrobras lebih baik dan tidak membuat produksi migas mereka mencukupi kebutuhan mereka. Setelah Petrobras diprivatisasi sebagian, justru mereka bisa bergerak dengan lebih leluasa.

No comment
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Potrat-Potret Turis Berlatar Gedung

Kota Madrid tidak memiliki komplek pencakar langit seperti kota metropolitan modern a la Amerika, Eropa, Australia dan bahkan Asia.  Orang sini lebih suka pandangan mereka tidak terhalang oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi dan tidak mau hidup mereka seperti terkurung di belantara gedung.

Komplek gedung perkantoran yang modern dan tersusun atas belasan lantai hanya ada di sekitar Cuzco. Selain itu, gedung-gedung yang tertinggi mayoritas hanya 4-6 lantai saja. Gedung apartemenpun demikian pula, mayoritas 4-6 tingkat, tapi ada pula yang sampai 12 tingkat. Namun tidak ada yang setinggi 30 lantai atau 46 lantai seperti BNI 46.

Pencakar langit tertinggi yang ada di Madrid sekarang terletak di ujung jalan Castellana alias Paseo de la Castellana. Jumlah gedung itu ada 4 dan diberi nama Cuatro Torres, artinya empat tower atau empat gedung begitu deh. Lokasinya persis di depan kantor Repsol yang cuma 5 lantai. Entah ada berapa jumlah lantai keempat gedung itu, mungkin di atas 30-an. Keempat gedung itu sangat menyolok dan dengan mudah dapat terlihat dari pesawat ketika hendak mendarat di bandara internasional Barajas Madrid.

Nah, sebagai sesuatu yang baru bagi warga lokal, seringkali saya  melihat orang-orang mengambil foto dengan latar belakang keempat gedung itu. Seorang teman bahkan sempat menganjurkan kepada teman saya yang orang Indonesia, agar teman saya yang orang Indonesia itu mengambil sebuah foto dirinya dengan latar belakang keempat gedung pencakar langit yang hampir selesai dibangun. Mak jegluk kontan sebagai orang Indonesia kami tertawa semua. Wong di Jalan Sudirman saja sudah banyak gedung pencakar langit kok, emangnya kita masih kampungan? :D

Tindakan warga lokal mengambil foto Cuatro Torres membuat saya berpikir mungkin adalah hal yang lumrah bahwa seseorang tertarik pada hal yang menurutnya tidak biasa. Sebagai buktinya, ketika kita orang Indonesia jalan-jalan ke luar negeri, kita sendiri sering  mengambil foto dengan latar belakang gedung di luar negeri. Mungkin orang lokal akan heran dengan tindakan kita, wong baginya gedung itu adalah hal yang biasa, walaupun dibangun pada abad ke-12, misalnya.

Bagi kita yang sedang menjadi turis, gedung yang dibangun pada abad ke-12, ke-15 dan gedung tua lainnya adalah sesuatu yang luar biasa. Oleh karena itu kita sengaja mengambil foto dengan latar belakang gedung tersebut.

Jadi begitulah, turis lokal di sini justru lebih tertarik dengan gedung pencakar langit yang kaku dan hanya dilapisi kaca. Kebalik deh sama orang Indonesia.

No comment
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Ladang Bunga Matahari & Kuaci

Bunga matahari, ternyata adalah salah satu komoditas lahan pertanian di wilayah Salamanca, Spanyol. Ladang -ladang yang ditanami bunga matahari dengan mudah dapat terlihat dari jendela kereta diesel jurusan Avila-Salamanca.

Ladang bunga matahari itu berada di wilayah yang sekilas terlihat relatif datar, tapi sebenarnya tanah wilayah itu bergelombang. Tanah di sekitar ladang didominasi oleh pasir, terlihat gersang pada musim panas seperti sekarang.

Dilihat dari savana yang bertebaran dan jarangnya pepohonan di daerah itu, kemungkinan besar tanah di sana jarang mendapatkan siraman air hujan. Pengairan di ladang dilakukan dengan menggunakan pipa air yang bisa dipindah-pindahkan. Pipa air ini digantung dan memiliki roda, dengan demikian bisa ditarik oleh traktor atau mobil.

Biji bunga matahari yang sudah menjadi kuaci biasanya dijual di luar stadion seperti Santiago de Barnebeu dan Vicente Calderon. Kuaci tampaknya adalah cemilan tradisional orang Spanyol ketika sedang menonton bola. Tentu saja cemilan lain seperti kacang-kacangan juga dijual bersamaan dengan kuaci.

Secara kebetulan, dalam perjalanan pulang dari Salamanca ke Madrid, di kereta saya melihat seorang ibu - penumpang yang duduk di seberang kursi saya - asyik mengunyah kuaci sepanjang perjalanan mulai dari Avila sampai ke Madrid. Baru kali ini saya bertemu penumpang kereta diesel mengunyah kuaci. Biasanya penumpang kereta lebih banyak membawa kripik kentang. Mungkin, si ibu tadi adalah warga lokal wilayah penghasil kuaci, oleh karena itu beliau lebih dekat kepada kuaci daripada kripik kentang a la Smith dan merek lain.

Kalau ditimbang-timbang, kuaci memang lebih alamiah daripada kripik kentang olahan, yang ketambahan garam, vetsin dan minyak goreng. Ketika mengunyah kuaci, energi yang masuk ke tubuh saya yakin tidak akan sebanyak energi yang disuplai oleh kiripik kentang. Demikian pula jumlah garam dan lemak jenuh di kripik kentang olahan pasti lebih banyak daripada jumlah lemak di kuaci. Bahkan kuaci mungkin enggak ada lemak sama sekali deh. Jadi, mengunyah kuaci sebenarnya adalah ide yang bagus, patut dilakukan.

No comment
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Ubuntu 8.04.1 di Acer Aspire 5920

Microsoft Office cuma bisa dicoba untuk 90 hari. Norton AntiVirus juga cuma “trial version” selama 90 hari. Terus Windows Vista itu versi bahasa Spanyol lagi, enggak bisa dirubah ke bahasa Inggris. Akhirnya sebuah keputusan diambil, buang Windows Vista itu dan install Ubuntu 8.04.1, di Acer Aspire 5920 baru yang masih kinyis-kinyis. Jadi, Windows Vista itu cuma sempat dipergunakan selama sekitar 2 jam.

Hard disk sebesar 120 GB semuanya digunakan untuk Ubuntu 8.04.1 Hardy Heron, atau lebih sering dipanggil “Hardy” saja. Instalasi berjalan lancar, hanya ada 7 langkah, enggak repot dan enggak njelimet. USB optical mouse yang disambungkan ke laptop langsung bisa dikenali, plug and play, ces pleng! Kita bisa memilih bahasa yang hendak digunakan sebagai default language, ada bermacam-macam bahasa. Bahasa yang dipilih untuk sistem operasi boleh tidak mengikuti jenis/sistem keyboard. Mengkombinasikan bahasa Inggris dan keyboard berbahasa Spanyol bisa, menggunakan sistem operasi berbahasa Spanyol atau Jerman
dengan keyboard Italia juga bisa, kalau mau sih.

Setelah instalasi Hardy selesai, komputer di restart, selanjutnya menyambungkan si laptop ke koneksi internet. Di pojok kanan atas desktop ada sebuah icon untuk mengedit network configuration. Klik sekali di icon ini, kemudian pilih wifi yang cocok, ketikkan password, beberapa detik kemudian langsung deh tersambung ke internet. Update sana dan update sini, lalu download berbagai aplikasi gratis, seperti Inkscape yang enggak kalah sama CorelDraw, Skype versi linux, firewall, antivirus dan Thunderbird. Kemudian beberapa test dilakukan untuk mengecek bagian mana yang tidak berfungsi.

Ternyata suara laptop hilang dan built-in webcam tidak berfungsi. Googling sebentar, ketemu berbagai topik diskusi, baca beberapa posting, utak-atik sedikit di laptop, suara laptop muncul lagi. Demikian pula masalah dengan webcam dapat diatasi setelah menginstall EasyCam2, yang secara cerdas dapat memilihkan driver yang pas untuk webcam yang kita miliki, dan Cheese, program yang digunakan untuk memotret dengan menggunakan webcam.

Tombol-tombol “EasyLaunch” juga sebagian besar berfungsi dengan baik. Hanya tombol bluetooth yang tidak berfungsi, karena memang enggak ada bluetooth adapternya. Tidak termasuk dalam harga yang dibayarkan.

Yang paling sulit diatasi, ternyata adalah suara dari microphone yang tidak bisa masuk ke Skype, sehingga saat menggunakan Skype hanya bisa mendengar tapi rekaman suara tidak muncul. Setelah googling sana sini sekitar 12 jam dalam 2 hari, akhirnya masalah ini bisa diatasi. Rupanya hanya perlu menambahkan sebaris perintah di salah satu file, memberitahu bahwa soundcard dibuat oleh Intel, chipset yang digunakan
adalah ALC888 dan model komputernya adalah Acer. Skype sekarang berjalan dengan baik. Sayangnya Skype di linux baru terbatas pada telpon, belum sampai ke tahap videoconference. Tapi bukan masalah, sudah ada WengoPhone yang mampu menjalankan webcam di linux, semacam Skype tapi versi opensource, yang nanti akan menjadi kompetitor Skype.

Utak-atik Acer 5920 kinyis milik istriku itu tidak berhenti hanya sampai pasang Skype. Mumpung graphic cardnya cukup bagus dan Compiz-Fusion sudah terpasang by default di Ubuntu 8.04.1, ide meniru desktop Macintosh kemudian muncul. Googling sebentar, ketemu sebuah blog yang memberitahukan langkah-langkah merubah desktop Ubuntu menjadi seperti OSX Leopard. Transformasi itu bisa dilihat di blog http://desaguadero.blogspot.com

Desktop Acer Aspire 5920 itu sekarang sekilas terlihat seperti Mac OSX. Hardy Heron sudah berjalan dengan lancar di laptop itu, oke banget. OpenSource operating system yang mantaf!

Sayang sekali, harga yang telah dibayar sebenarnya mencakup harga OS Windows Vista yang sudah dibuang. Bill Gates sungguh beruntung, orang enggak mau make OS-nya saja masih tetap harus setor duit kepadanya.
Duh! Utang apa sih kita sama Bill Gates, sampe kudu setor duit ke dia terus?

No comment
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Dubai: Metropolitan a la Amerika di Timur Tengah

Keluar dari airport setelah mengambil bagasi, udara panas langsung menerpa wajah, serasa berada di bahwa mesin Boeing 747-400 nomor penerbangan LH-630 yang barusan saya naiki dari Frankfurt ke Dubai. Walaupun saat itu hampir jam 11 malam,  suhu udara di luar airport kemungkinan besar berkisar di wilayah 40-an derajat Celcius, tanpa ada sinar matahari di atas kepala.

Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Timur Tengah, lebih tepatnya lagi masuk secara resmi melewati petugas imigrasi ke negara Arab. Tahun 2003, ketika transit di Abu Dhabi, saya tidak bisa melewati petugas imigrasi karena tidak memiliki visa. Waktu itu saya  memang tidak berencana untuk keluar dari airport, jadi tidak meminta visa terlebih dulu di Jakarta. Keperluan saya waktu itu hanya transit sekitar 6 jam, setelah terbang dari Islamabad, Pakistan.

Kota Dubai yang terlihat oleh mata saya selama sekitar 4 hari, minggu lalu, adalah sebuah kota modern, metropolitan dengan gedung pencakar langit berada di mana-mana. Dubai sedang giat membangun lebih banyak konstruksi baru lagi, termasuk Burj Dubai, yang konon akan lebih tinggi daripada Burj Al Arab, hotel bintang 7 satu-satunya di dunia.

Jalan raya di Dubai berkualitas sangat baik dan lebar, terkesan angkuh, dalam arti hanya dibuat untuk pengendara mobil. Pepohonan di pinggir jalan hampir tidak ada, tentu saja karena kondisinya yang kering hingga sulit menumbuhkan pepohonan. Di mana-mana ada perkantoran dan pusat perbelanjaan.  Gaya hidup konsumtif sangat dipuja di Dubai, cocok bagi kaum berada.

Hotel tempat saya menginap, Grand Hyatt Dubai, yang berada dekat Dubai Creek, juga megah dan terkesan mewah. Konon, jika dilihat dari atas misalnya dengan menggunakan Google Earth, bentuk hotel Grand Hyatt adalah tulisan nama Dubai dalam bahasa Arab. Dari dalam, bentuknya memang terasa aneh, lorong jalan menuju ke kamar berbentuk agak melengkung, bukan garis lurus seperti hotel-hotal lain biasanya.

Grand Hyatt memiliki fasilitas super lengkap, beberapa kolam renang, gym, berbagai macam restoran, hiburan live music di lobby setiap jam 7-8 malam, dengan 3 pemain biola dan 1 pembetor bass, semuanya cewek bule, entah diambil dari mana, eh cantik-cantik lagi. Live performance juga ada di restoran Lebanon yang kami masuki, ada tari perut, hampir sih, karena yang nari memperlihatkan perutnya begitu lho.

Kembali ke kota Dubai, pembangunan konstruksi baru, konon menurut orang-orang yang tinggal di Dubai, serasa tidak pernah habis. Modal investor terus saja masuk ke sana. Menurut cerita, Tiger Wood juga memiliki gedung sendiri di Dubai (duit untuk membangunnya sih bukan dari Tiger Wood), lalu Donald Trump juga nanti akan memasang namanya di salah satu gedung.

Tak hanya konstruksi pencakar langit dengan pekerja dari India dan Asia Selatan pada umumnya yang berada di Dubai, konstruksi palem-palem dan peta dunia di Laut Persia juga sedang dilakukan. Salah satu palem yang bernama Palm Jumeirah sekarang sudah didiami. Palem yang lain sedang dikonstruksi. Betul-betul deh, entah duit siapa yang mengalir ke sana.

Hidup di Dubai dengan fasilitas modern yang ada, dengan rasa aman yang berhasil mereka ciptakan dan pajak yang tidak mereka pungut, bagi orang-orang yang memiliki penghasilan tinggi, tampaknya akan sangat menarik karena gaya hidup di sana betul-betul sudah versi Amerika. Tapi bagi yang berpenghasilan kecil, hidup di Dubai mungkin tidak seenak yang terlihat oleh mata.

No comment
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com